SEAMEO BIOTROP: Kunjungan Inspiratif untuk Pengembangan KIR

Kunjungan ke SEAMEO BIOTROP menjadi pengalaman yang membuka wawasan kami. Pernahkah kamu bertanya, ‘Seberapa jauh ilmu di buku bisa diterapkan di lapangan?’ Pada 30 Juni 2025, kami para pengurus Forum of Scientist Teenagers (FOSCA) berkesempatan mengunjungi SEAMEO BIOTROP di Bogor. Tujuan kami satu: menguak rahasia riset tropika dan teknologi pertanian terapan yang selama ini hanya kami baca di buku

kunjungan SEAMEO BIOTROP oleh pengurus FOSCA

Kegiatan SEAMEO BIOTROP: Dari Kebun Serai ke Botol Minyak Atsiri

Kunjungan  SEAMEO BIOTROP dimulai di Laboratorium Natural Products, tempat berbagai ekstrak tanaman diproses menjadi minyak atsiri. Di sini, kami melihat langsung tahapan distilasi uap: batang serai dipanaskan dalam boiler, uap yang membawa komponen aroma dialirkan ke kondensor, lalu didinginkan hingga terpisah antara air dan minyak murni. Setiap minyak yang dihasilkan memiliki karakter aroma yang berbeda, tergantung jenis tanamannya.

Yang lebih menarik, setiap komponen aroma mulai dari mawar, melati, hingga sereh—diteliti menggunakan GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry) untuk memetakan puluhan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Analisis ini penting untuk mengetahui kualitas, kemurnian, dan potensi aplikasi dari masing-masing ekstrak.

WhatsApp Image 2025 11 01 at 11.05.16                              laboratorium minyak atsiri SEAMEO BIOTROP

“Bahan aktif inilah yang kelak menjadi parfum, sabun cair, bahkan potensi obat,” ujar Prof. Suprianto sambil menunjukkan botol‑botol ekstrak.

Merawat Ikan dengan Sistem RAS

Selanjutnya, di kolam budidaya ikan nila, kami mempelajari protokol Recirculating Aquaculture System (RAS), yaitu suatu sistem pemeliharaan ikan yang mengolah kembali air kolam secara berulang dengan proses penyaringan. Dalam sistem ini, air limbah disaring melalui beberapa tahap, mulai dari penyaringan padatan hingga proses nitrifikasi yang menguraikan amonia menjadi senyawa yang lebih aman. Air yang telah bersih kemudian dialirkan kembali ke kolam sehingga kualitasnya tetap stabil dan ramah lingkungan. Dua aspek penting yang kami pelajari adalah pemberian pakan yang terukur serta penggantian air 20–30% setiap hari untuk menjaga kondisi ikan tetap sehat dan produktif.

Madu Tanpa Sengat: Lebah Trigona

WhatsApp Image 2025 11 01 at 09.14.09 scaled

Di Stingless Bee Garden, koloni Trigona sp ditempatkan dalam kotak-kotak kayu yang berfungsi sebagai sarang sekaligus ruang produksi madu. Setiap tiga bulan, sekitar 250 mL madu dapat dipanen dari setiap kotak, dengan rasa yang unik karena dipengaruhi oleh jenis nektar bunga di sekitarnya. Meski ukurannya kecil, lebah Trigona mampu terbang hingga 2 km untuk mencari pakan. Melihat ketekunan dan pola kerja terorganisir dari koloni ini membuat kami memahami bagaimana prinsip kerja sama (teamwork) sangat penting dalam keberhasilan sebuah riset.

“Kerja tim lebah ini menginspirasi kita bagaimana riset butuh kolaborasi,” kata Pak Heri, pemandu lapangan.

Kangkung Melambung Tanpa Tanah

WhatsApp Image 2025 11 01 at 10.55.19

Selanjutnya zona Smart‑Agriculture yang memukau: tanaman kangkung yang dapaat tumbuh tanpa tanah, dalam sistem hidroponik ini terdapat dua parameter penting yang selalu dipantau adalah pH dan TDS. pH menunjukkan tingkat keasaman air, dan nilai ideal untuk kangkung berada pada kisaran 5,8–6,2 agar akar dapat menyerap nutrisi secara optimal. Sementara itu, TDS (Total Dissolved Solids) menggambarkan jumlah nutrisi yang terlarut di dalam air, biasanya diukur dalam satuan ppm. Nilai TDS yang stabil membantu memastikan tanaman tidak kekurangan atau kelebihan nutrisi selama masa pertumbuhan.

Semua proses ini dikendalikan secara otomatis melalui sistem pemantauan kelembaban dan nutrisi berbasis sensor IoT. Hasilnya, kangkung dapat dipanen hanya dalam 20 hari—jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional yang membutuhkan waktu lebih dari satu bulan.

Zero‑Waste di Mushroom House

Di “kumbung jamur” SEAMEO BIOTROP, baglog jamur tiram diinkubasi dengan suhu 20–24 °C dan kelembaban 70–80 % agar miselium tumbuh optimal. Setiap baglog dapat dipanen 4–5 kali, sebelum akhirnya tidak lagi produktif. Menariknya, baglog yang sudah habis masa panennya tidak dibuang begitu saja; limbah tersebut diolah kembali menjadi kompos dan digunakan sebagai media tanam. Proses ini menunjukkan bagaimana prinsip zero-waste diterapkan secara nyata—bahwa sisa produksi dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai bagi siklus budidaya berikutnya.

Kultur Jaringan: Bibit Unggul Tanpa Virus

WhatsApp Image 2025 11 01 at 09.14.08 scaled

Penutup kunjungan berada di Laboratorium Tissue Culture, tempat potongan daun, batang, atau akar (disebut eksplan) ditanam pada media steril yang kaya nutrisi. Dalam kondisi terkontrol, eksplan tersebut akan membentuk tunas-tunas baru yang kemudian diperbanyak hingga menjadi ribuan bibit bebas penyakit. Proses ini memastikan setiap bibit memiliki kualitas genetik yang sama dan tidak membawa virus ataupun patogen dari tanaman induk. Menariknya, hanya dalam waktu sekitar satu bulan, satu eksplan mampu menghasilkan puluhan tanaman baru—sebuah teknologi efektif untuk mengatasi kelangkaan bibit unggul dan memenuhi kebutuhan pertanian modern.

Kenapa Kunjungan SEAMEO BIOTROP Ini Penting untuk siswa maupun anggota KIR?

  1. Langsung Berhadapan dengan Teknologi Modern
    Dari GC-MS, sensor IoT, hingga sistem RAS, kunjungan ini memberi pengalaman praktis yang jarang didapat di kelas. Sehingga siswa bisa memahami bagaimana alat dan teknologi ilmiah digunakan dalam riset nyata.
  2. Inspirasi topik penelitian yang relevan
    Banyak ide yang bisa langsung diterapkan ke proyek siswa dari SEAMEO BIOTROP  ini, meliputi budidaya ikan dengan RAS, hidroponik, ekstrak alami, hingga kultur jaringan. Semua kegiatan ini konkret, terukur, dan memiliki dampak nyata.
  3. Menguatkan rasa solidaritas ilmiah
    Melihat bagaimana peneliti bekerja, berkolaborasi, dan menjaga ketelitian membuat kami bangga sebagai pelajar KIR. Momen ini menjadi dorongan untuk terus berkarya dan terlibat dalam dunia penelitian.

Kami pulang membawa semangat baru: ilmu bukan hanya di buku, tapi di lapangan. Semoga kisah ini mendorong anggota KIR lain untuk menjelajah laboratorium dan lapangan, menumbuhkembangkan ide-ide kreatif demi Indonesia yang lebih hijau dan berdaya saing!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *